26/06/2017
Btw, selamat lebaran ya. semoga amal dan ibadah puasa kita diterima oleh Allah SWT, dan semoga kita masih bisa diberikan kesempatan untuk bertemu puasa dan lebaran selanjutnya ya.
Ohiya btw, gue udah naik kelas 12, dan sebentar lagi gue akan masuk sekolah dan akan menjalani kehidupan SMA yang sebenarnya, apalagi kelas 12 seperti final destination. bagi gue, dan teman teman seperjuangan gue yang lainnya, gue sadar banyak sekali yang perlu gue perbaikin untuk kedepannya, karena pada saat gue kelas 10 dan 11, gue malah seperti tidak terlalu menggunakan waktu gue dengan sangat baik, yaaaaaah............
Kelas 12, yang gue tau itu akhir dari keterpurukan, akhir dari kehancuran, akhir dari segala galanya. Intinya sih gue harus berjuang dulu untuk menikmati hasilnya, banyak sekali pengalaman pengalaman kakak kelas gue yang melewati kelas 12, dengan suatu ketidakmungkinan, maksud gue, banyak dari mereka yang bahkan kadang menyesal sudah menyianyiakan waktu dan bahkan tidak bisa menikmati hasil akhir mereka, gue malah berpikir, Apakah gue akan berakhir seperti mereka juga? Pikiran itu selalu menghantui perasaan gue, gue seperti dikejar kejar oleh kenyataan, kenyataan bahwa gue menyesal sudah menggunakan waktu gue dengan sangat tidak baik, tapi... daripada itu gue juga berpikir, mengapa gue seperti ini, mengapa gue seperti dihantui perasaan yang selalu mengejar gue untuk menghadapi dan mempertanggung jawabkan semua yang gue lakukan? jawaban hanya satu, gue kurang dekat dengan sang pencipta.
Dikelas 10, super berantakan, semraut banget, kasarnya. Gue selalu jadi bahan omongan orang, karena gue 180 derajat berbeda dari saudara tertua gue, oke singkatnya gue punya abang, yang bisa dibilang dia dikenal banyak orang karena prestasinya, sedangkan gue? Kadang itu ngebuat gue selalu iri sama abang gue, dia selalu jadi bintang disekolah, dan sialnya gue satu sekolah sama dia, yang ngebuat oknum oknum tak bertanggung jawab selalu berbicara suatu hal tentang gue, dan berusaha untuk memojokkan gue 'Oh dia tu, adiknya si itu tapi beda banget, kakaknya berprestasi tapi kok adeknya nggak ya?' gue selalu berusaha untuk ngebuat diri gue diakui oleh semua orang, kalo bukan abang gue aja yang layak mendapatkan pujian yang memuakkan itu, tapi segala cara yang gue lakukan selalu gagal, dan gue gatau kenapa, sekeras apapun gue mencoba mendapatkan pujian, hasilnya selalu gagal. DAN akhirnya terjawab sudah. Gaada gunanya gue mengejar suatu pujian hanya untuk membuktikan dan pamer, gue bisa lebih baik dari abang gue, karena pada akhirnya Allah gak akan suka hamba-Nya yang hanya menginginkan sesuatu dengan niat yang tidak jelas.
Seseorang pernah berkata sama gue, 'Jangan pernah iri sama kakakmu, karena semua kemampuan orang itu beda beda, kay? karena kamu punya potensi yang berbeda.' Gue tau pasti kenapa dia bilang kaya gitu ke gue, karena dia tau gue, dan dia juga tau abang gue.
Dikelas 11, gue mulai belajar, mulai belajar lebih mengenal sang pencipta. Awal awal gue kelas 11, gue diajak ikut suatu perkumpulan, gak begitu banyak yang di lakukan disuatu perkumpulan tersebut, lagipula perkumpulannya hanya berlangsung 1 minggu sekali, dan yang memimpin itu guru gue, guru mata pelajaran gue, dimana setelah gue mengikuti perkumpulan tersebut, gue tau kalo dia udah lama memperhatikan gue, dia udah lama tau kalo gue itu adeknya abang gue, dia juga salah satu pembimbing abang gue. dan sebenarnya emang dari kelas 10, gue itu udah di sasarin sama kakak kelas gue yang lain untuk mengikuti perkumpulan itu, 'eh kamu yuk ikut sama sama, kamu tau kan rumahnya ibu 7?' gue dari dulu emang diajarin ibu 7, tapi karena gue gasuka pelajaran nya, gue jadi selalu takut untuk bertemu ibu itu, bahkan bisa dibilang gue selalu menyembunyikan fakta, bahwa gue itu adek dari abang gue yang dikenal satu sekolah itu, namun sepandai pandai gue menyembunyikannya, semua bakalan tau kalo gue itu adeknya, karena dari muka gue atau nama gue pun semua bakalan tau gue adeknya abang gue, gue punya 2 alasan utama kenapa gue gamau semua orang menguak dan mengetahui kalo gue itu adeknya abang gue, satu; gue gasuka dibandingin, dua; gue minder.
Singkatnya, gue ikut perkumpulan itu, dan gue terus menumpahkan semua uneg uneg gue ke perkumpulan itu, masalah utama gue cuma satu; gue cape dengan hidup gue, dikelilingi oleh orang orang yang menuntut prestasi.
Dan gue menuntut perubahan besar pada diri gue.
***
JAAAAAAAAAAAAAAA, hidup gue dikelas 10 dan kelas 11, benar benar kacau banget, gue bahkan suka mati rasa, dikelas 10 hati gue selalu tertohok dengan semua komentar dan kicauan yang selalu memojokkan gue, di kelas 11 gue mulai ingin masa bodo dengan semua komentar dan kicauan oleh oknum oknum tersebut, tapi dasarnya semua manusia itu punya sisi lemah tersendiri, sekuat kuatnya mental gue, pasti mental gue akan jatuh juga karena suatu hal yang bisa bikin gue tertohok hebat.
Tentang gue ga mempergunakan kesempatan dengan baik, itu emang benar, gue bahkan ga mempergunakan kesempatan dengan amat sangat baik, gue punya banyak waktu tapi ga gue pergunakan untuk lebih mendekatkan diri kepada sang pencipta, semua kekhawatiran gue selama ini selama hidup, terjawab sudah, kenapa banyak permintaan gue yang bahkan nggak terwujud, itu karena gue ga begitu mengenal sang pencipta, istilahnya sholat ya sholat doang, ngaji ya ngaji doang, ga gue imbangi dengan segala pengetahuan agama yang wajib diketahui dan diamali oleh umat yang beragama, karena pengetahuan agama diatas segala galanya, selama ini gue ngerasa gue terlalu fokus sama urusan dunia, dan mengesampingkan urusan akhirat, karena kita semua tau, dunia itu hanya bersifat fana.
Setelah gue sadar, apa yang gue lakuin bener bener bikin gue lebih tertohok, gue gatau gue harus ngapain, dan gue ngerasa untuk berubah itu sangatlah terlambat, tapi seseorang memberi gue motivasi, dan siap mendukung gue, seseorang itu adalah, abang gue---orang yang selalu gue minderin dari dulu. Dia yang ngedukung gue, kalo buat berubah gak seterlambat yang gue pikirkan.
Mungkin gue masih perlu belajar banyak dari abang gue, dia udah berkali kali gagal tapi dia selalu punya cara untuk bangkit, dan ketika kegagalan terbesar nya datang menghampirinya, dia lebih memilih untuk mendalami Agama dan sang pencipta.
Apapun masalahmu, jangan takut. kenali sang pencipta maka semua akan terasa sangat ringan, jangan takut terlambat, karena lebih baik terlambat daripada tidak sama sekali.
***
Yosh, kelas 12 udah didepan mata gue, dulu ketakutan terbesar gue adalah kelas 12, dimana awal kehancuran dimulai, gue sudah tau gimana gambaran kelas 12, saat gue duduk dikelas 10, gue ngeliat kakel gue pada menghabiskan waktu mereka di perpus untuk pendalaman materi, bahkan ketika mereka dipulangkan sore pun, mereka tetap lari untuk mengejar les dan bimbel yang memuakkan, ketika gue kelas 11, kakak kelas gue mencurahkan isi hatinya, uneg unegnya tentang kelas 12 yang bikin dia mati rasa, yang bikin dia gak punya waktu bahkan untuk sekedar hangout saja, try out, uprak, bimbel, les, ulangan, pendalaman materi, uts, usbn, uas, bahkan UN. akan jadi makanan, apalagi ketika jarak mereka sangat berdekatan, betapa jadi sebuah mental breakdown untuk kelas 12.
Tapi, gue sudah tidak takut, mental gue mungkin sudah terlatih untuk menghadapi macam ginian, dari dulu mungkin gue selalu dihadepin yang serupa tapi gue selalu menyelesaikan dengan menangis dan ga melakukan apa apa, gue hanya diam, tapi sekarang gue udah tau apa yang harus gue lakukan saat semua ketakutan gue berkumpul menjadi satu sehingga tekanan batin yang akan perlahan muncul dan menyebabkan keterpurukan bagi gue, dan gue yakin kalian semua pasti tau apa yang mestinya gue lakuin.
WOI JANGAN MIKIR KALO MUKA GUE KEK GINI YA PAS READY NGADEPINNYA :"V GILE LU NDRO.

0 komentar:
Posting Komentar